Langsung ke konten utama

Harga Sebuah Percaya (Kisah Sang Penandai)



Judul : Harga Sebuah Percaya
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Mahaka Publishing
Cetakan : Kesatu, Mei 2017
Tebal : iv + 298 halaman


"Pecinta sejati tidak akan menyerah sampai kematian itu sendiri datang menjemputnya" -Sang Penandai-

Berkisah tentang seorang pemuda papa yatim piatu di sudut kota benua utara bernama Jim. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Nayla, putri seorang pembesar Negeri Seberang. Cinta Jim untuk Nayla bukanlah cinta sepihak karena Nayla pun jatuh hati pada Jim melalui permainan biolanya yang mempesona.

Keduanya saling mencintai, namun takdir mengharuskan mereka berpisah. Nayla harus kembali ke negeri asalnya dan dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya. Lelah menanti Jim yang tak kunjung menjemputnya, Nayla memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Kematian Nayla membuat hati dan pikiran Jim berantakan. Bahkan Jim berniat menyusul Nayla ke alam baka. Di tengah kekalutan hatinya, Jim bertemu dengan Sang Penandai yang terus-menerus mengatakan sesuatu yang tidak ia pahami mengenai sebuah dongeng yang harus ia selesaikan.

Dalam keterpaksaan, demi menghindari pembunuh bayaran kiriman ayah Nayla untuk menghabisi nyawanya, Jim mengikuti saran Sang Penandai untuk bergabung dengan ekspedisi menemukan Tanah Harapan jauh di bagian selatan bumi.

Pada ekspedisi tersebut, Jim bertemu orang-orang baru dan mengalami peristiwa-peristiwa yang membuatnya paham akan arti kata-kata Sang Penandai sebelumnya. Hingga pada akhirnya ia bisa mengenang Nayla dan masa lalunya tidak dengan duka nestapa namun dengan tersenyum penuh kerelaan.

Harga Sebuah Percaya adalah judul baru dari novel Kisah Sang Penandai yang telah bertahun-tahun lalu terbit. Novel ini bertema petualangan dan seperti novel Tere Liye lainnya, di dalamnya terdapat pesan-pesan mengenai pemahaman hidup. Meskipun terdapat unsur kisah percintaan di dalamnya, namun novel ini tidak menonjolkan sisi romansanya. Yang menarik, novel ini dapat menjadi resep untuk move on.


Boyolali, 6 Agustus 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Relawan Sehari : Kelas Inspirasi Boyolali 2

Ini adalah kisahku saat mengikuti Kelas Inspirasi Boyolali 2. Sudah cukup lama aku ingin bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi (KI) dan Alhamdulillah saat itu aku terpilih menjadi bagian dari para relawan pengajar. Awalnya sempat ragu apakah aku bisa mengajar anak-anak usia SD. Materi apa nanti yang akan aku sampaikan di hadapan mereka. Bagaimana jika materiku tidak menarik minat mereka. Dan berbagai keraguan lain memenuhi benakku saat itu. Sungguh sangat khawatir dan groginya aku. Apalagi saat aku bertemu dengan relawan lain yang sudah beberapa kali ikut KI, makin minder dan cemas. Halaman sekolah SDN 3 Gunung Hari yang dinanti pun tiba. Aku dan teman-teman sekelompok mendapat tugas untuk mengisi KI di SDN 3 Gunung, Simo, Boyolali. Letak SD ini cukup jauh dari pusat Kota Boyolali dan lingkungan sekitarnya pun masih asri. Bila aku tidak salah hitung, total jumlah siswanya sekitar 39 anak terbagi menjadi 6 kelas. Pagi hari pukul 07.00 WIB kami berangkat dari ...

Serial Anak-anak Mamak

Judul : Eliana, Pukat, Burlian, Amelia Pengarang : Tere Liye Eliana si anak pemberani Pukat si anak pintar Burlian si anak spesial Amelia si anak kuat Keempatnya adalah anak dari Mamak dan Bapak yang dibesarkan dengan pemahaman hidup yang indah. Hidup di daerah terpencil dan dalam keluarga yang sederhana tidak mematikan cita-cita mereka untuk melihat dunia. Cerita keempatnya bukan hanya sekedar cerita anak-anak. Namun juga merupakan suatu panduan parenting untuk para orang tua. Mereka dapat belajar bagaimana menanamkan pemahaman hidup yang baik kepada anak-anaknya. Boyolali, 11 Juli 2017

The Great of Two Umars

  Judul : The Great of Two Umars Penulis : Fuad Abdurrahman Penerbit : Zaman Cetakan : I, 2016 Tebal : 316 halaman Saat ini kita tak jarang mendengar berita tentang calon gubernur X, calon anggota dewan Y, dan calon-calon pejabat lain melakukan "blusukan". Seolah mereka berlomba-lomba mendapatkan simpati rakyat agar memilihnya. Tentu disertai janji-janji semanis madu yang entah nantinya akan ditepati atau tidak. Yang penting mereka mendapatkan banyak dukungan untuk mendapatkan kekuasaan. Namun sesungguhnya, "blusukan" sendiri telah ada jauh sebelum era perebutan kekuasaan ini. Salah satunya adalah "blusukan" yang selalu dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya selalu berpatroli hingga pelosok untuk memastikan kebutuhan rakyatnya terpenuhi. Tentu hal itu tidak mereka lalukan demi mencari simpati, apalagi popularitas. Tujuan mereka hanya satu yaitu ridho Allah. Keduanya paham sekali bahwa mereka akan dimintai pertang...